ANALISIS KOHESI GRAMATIKAL DAN KOHESI LEKSIKAL PADA BUKU KUMPULAN SYAIR ACEH
Abstract
Syair dikalangan masyarakat sekarang mulai ditinggalkan, baik generasi muda bahkan para orangtua pun sudah mulai kurang mengenal tradisi bersyair. Masyarakat Aceh hanya mengenal syair sebagai salah satu bentuk tuturan yang berirama tanpa mengetahui adanya kepaduan bentuk sesuai dengan tata bahasa (kohesi gramatikal) dan kepaduan bentuk sesuai dengan kosa kata (kohesi leksikal) yang terkandung didalamnya. Penelitian ini dilakukan karena selain mengingat syair yang kini hampir punah, peneliti juga ingin melihat kembali syair agar dapat dijadikan sebagai wacana yang efektif supaya pembaca mudah memahaminya yaitu dengan cara menggunakan analisis kohesi gramatikal dan kohesi leksikal. Penelitian ini akan memberikan gambaran bagaimanakah kohesi gramatikal dan kohesi leksikal dalam kumpulan syair Aceh. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan bentuk kohesi gramatikal dan kohesi leksikal agar dapat diketahui efektif tidaknya sebuah wacana (syair). Sumber data penelitian ini adalah syair Aceh sebanyak sepuluh syair. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik dokumentasi (sumber tertulis) dan teknik catat. Data yang terkumpul diolah secara kualitatif. Adapun contohnya ialah pada syair Sipheut Dua Ploh karya Abu Lam U, dalam syair ini terdapat unsur gramatikal yaitu (1) bentuk konjungsi terdapat dalam bait pertama “beujiturie wajéb haroh dan mustahé” dan kedua pada kalimat “bak hak Allah dengon Rasul bèk ji jahé”, (2) unsur referensi yaitu pada bait kedua belas pada kalimat “nyang peujeut dron nyang meunan mustahé jih na” dan bait keenam belas pada kalimat “sakira nap oe geutanyoe dudoe fana”, selanjutnya unsur (3) ialah penyulihan juga terdapat dalam syair ini yaitu pada kalimat “hana jaroe hana gaki zat potallah” dan pada kalimat “tan bak Rabbi maha suci zat Tuhan”, kemudian syair ini juga mengandung unsur kohesi leksikal (1) yaitu sinonim pada kalimat “kemudian nyan wajéb ateuh bandum insan”, dan “kayèè batèè dum lat batat manusia”. Persamaan kata dalam syair ini terdapat pada kata insan dengan kata manusia, (2) unsur antonim terdapat pada kalimat “tan berpihak zat pota Allah miyub ateuh”, dan kalimat “keue ngon likot wie ngon uneun tapham beudeuh”. Unsur (3) ialah hiponim (khusus), kata hiponim terdapat pada kalimat “miseu puteh hitam kuneng hijou dan mirah”, kata-kata tersebut termasuk kedalam jenis warna yang merupakan anggota hipernim (umum), selanjutnya unsur (4) yaitu ekuivalensi (kesepadanan), kesepadanan terdapat pada kalimat “Makna dum meugisa-gisa bak peuneujeut”, “miseu dua droe ureung meupeujeut-peujeut” dan “nyang seumeujeut jih gob peujeut teuma jih nyan”. Dari hasil temuan tersebut dapat disimpulkan bahwa, dari sepuluh kumpulan syair Aceh sudah dapat dikatakan sebagai wacana yang efektif karena di dalam syair tersebut terdapat kesepadanan wacana yaitu kohesi gramatikal dan kohesi leksikal. Setiap penulisan syair harus memperhatikan kekohesifan, agar syair tersebut dapat dikatakan sebagai wacana yang efektif.
Keywords
syair, kohesi gramatikal, kohesi leksikal
References
Alwi, Hasan, Dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.
Arikunto, Suharsimi. 2013. Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.
Badara, Aris. 2012. Analisis Wacana. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Chaer, Abdul. 2012. Linguistik Umum. Edisi Revisi, Cetakan Keempat. Jakarta: Rineka Cipta.
Damono, Sapardi Djoko. 1983. Kesusastraan Indonesia Modern: Beberapa Catatan. Jakarta: Gramedia.
Hamid, Ismail. 1983. Kesusastraan Melayu Lama Dari Warisan Peradaban Islam. Petaling Jaya, Selangor: Fajar Bakti Sdn. Bhd.
Hamid, Ismail. 1989. Kesusastraan Indonesia Bercorak Islam. Jakarta: Pustaka Al-Husna.
Handayani, Titik. 2005. Kohesi dan Koherensi dalam Novel Pupus Kang Pepes. Yogyakarta: Gama Media.
Harun, Mohd. 2012. Pengantar Sastra Aceh. Bandung: Citapustaka Media Perintis.
Jakarta: Gramedia.
Iskandar, T. 1995. Kesusasteraan Klasik Melayu Sepanjang Abad. Brunai Darussalam: Malindo Printers Sdn. Bhd.
Kartomihardjo, Soeseno. 1993. Analisis Wacana dengan Penerapannya pada Beberapa Wacana. Dalam PELLBA 6. Yogyakarta: Kanisius.
Kridalaksana, Harimurti. 1994. Kelas Kata Dalam Bahasa Indonesia (Edisi Ketiga). Jakarta: Gramedia Pustaka.
Kushartanti dkk. 2005. Pesona Bahasa: Langkah Awal Memahami Linguistik. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Lubis, A. H. H. 1993. Analisis Wacana Pragmatik. Bandung: Angkasa.
Moleong, Lexy J. 2007. Metodelogi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Nazir, Moh. 2003. Metode Penelitian, Salemba Empat, Jakarta, 63.
PM, Redaksi. 2012. Sastra Indonesia. Jawa Barat: Pustaka Makmur.
Pradopo, Rachmat Djoko. 2005. Pengkajian Puisi. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta.
Sudaryat, Yayat. 2009. Makna Dalam Wacana. Bandung: Yrama Widya.
Sumarlan. 2003. Analisis Wacana. Surakarta: Pustaka Cakra.
Sumber: (Suwandi, Sarwiji; Sutarmo. 2008. Bahasa Indonesia Bahasa Kebanggaanku 2. Jakarta: Pusat Perbukuan, Depertemen Pendidikan Nasional. Hal 190).
Tarigan, Henry Guntur. 1987. Pengajaran Wacana. Bandung: Angkasa.
Tutescu, Mariana. 1979. Précis Semantique. Hal. 74-102. Paris: Klinsieck.
Verhaar, J. W. M. 2004. Asas-Asas Linguistic. Ugra Press Yogyakarta.
Waluyo, Herman J. 1991. Teori dan Apresiasi Puisi. Bandung: Angkasa.
Wildan, 2001. Tata Bahasa Aceh. Banda Aceh: Dinas pendidikan Nanggroe Aceh Darussalam.
Zaimar, Okke Kusuma Sumantri dan Ayu Basoeki Harahap. 2009. Telaah Wacana. Jakarta: The Intercultural Institute.